Total Tayangan Laman

Jumat, 15 April 2011

BEAUTIFUL WOUND

Kami menyandar di bangku ruang tunggu rumah sakit. Lepas dari pengawasan ibu yang masih menunggui adikku melalui masa kritisnya setelah operasi.

Aku beranjak bangun, mengangkat kepala dan menatapnya.“Setelah ini semuanya akan berubah bagimu dan Vania”

“Entahlah. Aku tidak tau harus mengharapkan pilihan apa yang akan terjadi”, nada suaranya terdengar tidak senang.

“Maafkan kalau aku punya andil membuatmu terjepit dalam situasi ini. Sungguh, waktu itu pun aku tidak tau harus berbuat apa”.

Rehan menatapku lurus-lurus “Adakah jalan lain Vei? Aku sama sekali tidak ingin menyakiti hati Vania. Dan di sisi lain, aku tidak bisa mengorbankan perasaanku sendiri. Kau tau selama ini aku selalu merasa bersalah padanya, berpura-pura mencintainya, berjanji akan selalu ada untuknya, dan...dan..dan segala macam”.

Aku terdiam sejenak, menghela nafas berat. “Sejujurnya aku juga tidak punya solusi Han. Aku ingin Vania sembuh dari penyakitnya tetapi ternyata itu semua berubah menjadi mimpi buruk bagimu. Aku juga ingin melihatmu bahagia dan lepas dari Vania, tetapi jika kita memberitahunya, mungkin dia akan berakhir di pemakaman”, aku bergidik sendiri mendengar kata-kata terakhir.

Rehan adalah teman baikku sejak seragam kami putih abu-abu. Vania, adikku satu-satunya yang menderita penyakit kelainan katup jantung sejak lahir. Ibuku menangisi keadaannya sejak dia masih dalam kandungan sampai sekarang. Saat tengah mengandungnya beberapa bulan, ayahku meninggal dalam perjalanan dinas. Ibu yang frustasi tidak kuat menahan beban itu, melampiaskannya pada rokok dan alkohol. Perbuatannya memang tidak membunuh Vania, tetapi Vania menjadi langganan tetap rumah sakit jantung.

Vania mengenal Rehan saat kuajak menjenguknya di rumah sakit. Awalnya, Vania dan ibu mengira Rehan adalah pacarku. Tetapi setelah kujelaskan bahwa kami adalah teman baik, Vania mulai menyukainya. Dan perasaan suka pun berubah dari cinta, perasaan yang akhirnya tidak hanya berpotensi membunuh Vania tetapi juga menjebak Rehan. Waktu itu, aku dan Rehan dibujuk oleh ibu. Atas nama kesembuhan Vania, Rehan diminta berpura-pura menyukainya. Demi ibu dan Vania, aku terpengaruh dan mendorong Rehan melakukannya. Di saat dia menyatakan bersedia, hatiku terasa agak aneh. Rehan yang selama ini enggan menjalin hubungan dengan perempuan, tiba-tiba menjadi “pacar” adikku.

Hubungan mereka benar-benar berdampak positif pada Vania. Setelah hampir satu tahun, dokter menyatakan jantungnya siap untuk dioperasi. Di situlah semuanya berubah buruk kalau tidak bisa dikatakan bencana. Tanpa diduga, ibuku mengambil langkah yang sangat berani. Dengan meyakinkan ibu Rehan, pernikahan Vania dan Rehan sudah direncanakan. Dan kamipun akhirnya tidak bisa berbuat banyak, semuanya sudah terlambat.

Aku dan Rehan sama kagetnya. Tidak menyangka bahwa keadaan akan berubah seperti ini. Aku terkejut karena tidak menyangka akan kehilangan Rehan secepat itu. Ya, takut kehilangan Rehan. Entahlah, dari dulu pun aku menyayanginya. Mulai dari perasaan sayang biasa seperti pada teman sampai seperti perasaan seorang kekasih. Perasaan yang tumbuh di waktu yang salah, saat seharusnya aku melepaskannya untuk Vania. Aku baru menyadarinya setelah semua rencana gila ibu dimulai. Perasaan yang bahkan tak sempat kunikmati, harus langsung musnah sebelum semuanya berubah menyakitkan.

“Vei, haruskah aku jujur padanya nanti?”

“Dan mengecewakan dia, mengecewakan ibu kita juga”

“Aku tau rasanya harus selalu patuh pada keinginan orangtua Vei, tapi tidakkah sekali-kali kita juga ingin didengar?”

“Kau bisa mundur secepatnya Han, sebelum semuanya lebih jauh”

“Kau tau aku tidak bisa melakukannya sendiri. Aku membutuhkan bantuanmu”

“Aku tidak tau harus membantumu dalam hal apa. Hasilnya sudah kubayangkan dan..”, aku belum menyelesaikan kata-kataku ketika ibu masuk bersama dokter dan ibu Rehan.

Dokter menyatakan sebentar lagi Vania akan bangun dan kondisinya sudah stabil, lalu ia beranjak keluar. Dia berhasil melewati operasi pemulihan katup jantung dan Vania akan sembuh total. Berarti sebulan lagi dan resmilah mereka menjadi suami istri. Memikirkannya saja kepalaku sudah berat dan hatiku kebas. Walaupun sebenarnya diam-diam aku sudah merencanakan kepindahanku ke kota lain. Cukup jauh dari sini, dari ibu, dari Rehan dan dari Vania. Cukup jauh, sehingga aku berharap mereka tidak akan menemukanku sampai perasaan konyolku pada Rehan hilang. Aku melangkahkan kaki ke bangku taman rumah sakit. Aku tidak ingin menyaksikan drama selanjutnya, Vania yang hampir siuman tentu akan mencari Rehan.

“Vania mencarimu”, suara Rehan muncul dari belakangku.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

“Kau sendiri? Pergi dari kamar Vania diam-diam. Aku tau kau suka taman, tapi waktunya tidak tepat”

“Aku..aku..tadi menerima telepon. Kau kembalilah, Vania membutuhkanmu di sana”

“Aku akan kembali kalau kau ikut. Dia juga membutuhkanmu, kau kakaknya. Lagipula aku tidak tau kenapa kau berbohong menerima telepon. Aku ke sini mengantarkan ponselmu. Tadi ada telepon dari kantor, katanya kau akan pindah”

Aku terkejut menatap Rehan, dengan cepat menyambar ponselku dari tangannya, “Kau mengangkat teleponku?”, aku sedikit nanar, rencanaku ketahuan.

“Kau menyembunyikan sesuatu. Pindah kantor? Kau melarikan diri dari apa?” Rehan menarik tanganku.

Air mataku sudah tidak bisa ditahan lagi, sudah tidak peduli pada tatapan orang-orang, “Aku lari dari perasaan bersalahku”.

“Dan meninggalkan aku dalam ikatan yang tidak kuinginkan. Benar begitu?”

Aku hanya diam melihat kemarahan Rehan dan tertunduk semakin dalam. Rehan tiba-tiba jatuh berlutut di depanku sambil membuka tangan yang menutupi wajahku.

“Tidakkah aku terlihat putus asa bagimu? Lalu kau pergi meninggalkanku? Tidakkah kau pahami aku selama ini Vei? Tidakkah kau sadar, semuanya kulakukan untukmu. Tidakkah kau tau, aku selama ini bertahan karena ada kau di sampingku?

Sesaat aku tidak mengerti kata-kata Rehan, “Aku tidak tau harus menebus kesalahanku dengan apa”, dengan terisak-isak aku menjawabnya.

“Kau benar-benar tidak mengerti. Sekarang, dengarkan aku. Aku melakukan semua ini karena aku ingin melihatmu bahagia. Agar kau tidak lagi sedih melihat penderitaan adikmu dan perasaan bersalah ibumu. Hanya untukmu, aku melakukannya untukmu dengan mengorbankan diriku. Perlukah lagi kata-kata untukmu?”

“Apa yang kau bicarakan?” tangisanku mulai berhenti, sekarang aku bingung.

Rehan kembali duduk di sampingku, masih dengan menggenggam tanganku. Dalam satu tarikan napas, dia mengatakannya,”Veisa, aku mencintaimu. Dari dulu pun aku sudah mencintaimu. Itulah alasannya mengapa aku tidak dekat dengan perempuan lain”

Pernyataan Rehan benar-benar membuatku membumbung ke langit tinggi, tetapi dengan cepat kesadaran menggugah dan menghempaskanku kembali ke dasar bumi. Aku tidak bisa menjawab kata-katanya, aku menggigit bibir sampai ludahku terasa asin, mungkin berdarah. Kegugupan melandaku, entah aku harus merasa senang atau sedih. Senang karena perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan dan sedih karena menyadari kenyataan yang sedang terjadi. Tidak !!! Aku memutuskan untuk mengelak darinya.

“Kau tau aku punya pacar”

“Kalian sudah putus karena dia selingkuh”

“Aku lupa bilang, minggu lalu kami jadian lagi, Bara sudah berubah”

“Kau bohong!! Sudah beberapa kali aku melihatnya bersama perempuan lain”

“Aku tau, itu sepupunya yang datang ke sini”, aku masih bisa berkilah

“Antar sepupu tidak saling berpelukan layaknya sepasang kekasih! Lagipula kita sama-sama tau Bara tidak punya sepupu, dia dibesarkan di panti asuhan”, kata-kata Rehan telak menimpa gendang telingaku.

Tidak ada gunanya adu mulut dengannya, aku pasti kalah, “Sudahlah, perasaanmu terlalu mengada-ada”, aku beranjak tetapi Rehan menahanku.

“Kenapa harus berbohong padaku? Apa yang kau takutkan?” Rehan menatapku tajam, aku tidak bisa melawan matanya.

“Tidak ada. Lepaskan aku”, tapi aku tak kunjung dilepaskan. Rehan memandangku lebih tajam seolah-olah dia sedang menyadari sesuatu.

“Kau? Kau mempunyai perasaan yang sama denganku. Kau takut ketauan! Jawab aku!”, wajah Rehan berubah menjadi marah. Aku masih diam bergeming. Rehan mengguncang tubuhku dan memaksaku lebih keras. “Jawab aku Vei. Apakah kau mencintaiku atau tidak?”. Aku masih tidak menjawabnya, air mata semakin deras mengaburkan pandanganku. Aku tetap harus berpikir jernih. Semuanya sudah terlambat sekarang, walaupun aku mengakui perasaanku, sudah tidak ada gunanya lagi. Tidak akan ada yang berubah.

“Tidak, aku tidak mencintaimu”, aku memantap-mantapkan suara.

“Katakan sambil menatapku!”

“Aku tidak mencintaimu”, jawaban itu tidak membuat Rehan melepaskanku. Matanya semakin nanar menatapku.

“Baiklah. Tapi jika kau pindah ke luar kota, aku tidak akan menikahi Vania”. Hatiku semakin perih mendengar kata-katanya. Gerimis yang tiba-tiba turun menyamarkan air mataku tetapi tidak mampu menyirami hatiku.

“Kau tetap akan menikahinya. Kau tidak akan tega mengecewakan ibumu”, ujarku. Rehan tersentak, tangannya mengendur dari bahuku. Kesempatan itu kupergunakan untuk lari sejauh-jauhnya. Rehan, aku berharap kau bisa mencintai Vania dan melupakanku. Aku terlalu pengecut untuk jujur padamu. Aku hanya berharap, keputusan inilah yang terbaik untuk semuanya. Walaupun aku tidak tau, bisakah aku melupakanmu. Mencintaimu seperti memiliki luka yang indah. Menyakitkan, tetapi lukanya tidak bisa kuobati karena menyembuhkannya berarti melupakanmu. Aku tidak ingin melupakanmu Rehan, tetap akan kujaga luka itu dihatiku.

Hari selanjutnya, masih dengan pikiran berkecamuk aku segera pergi. Setelah dengan segala alasan, aku meyakinkan ibu dan Vania semalam suntuk. Berjanji akan kembali untuk pernikahan Vania dan Rehan, aku pun pergi tanpa pamit pada Rehan. Aku tau dia, dia tidak akan mengecewakan ibunya dan Vania.

Sebulan kemudian...

2 hari lagi pernikahan itu dilangsungkan. Aku bersiap pulang, mempersiapkan hatiku yang sama sekali tidak siap. Aku hanya harus berpura-pura dan semuanya akan beres. Rehan mungkin marah, tapi sejauh ini dia sudah menyerah. Kereta yang kunaiki terasa berjalan begitu cepat, sebentar lagi sampai. Tetapi tiba-tiba aku merasakan gerbong yang kunaiki bergerak tidak wajar. Benar saja, aku melihat gerbong di depan meliuk-liuk dan gerbong yang kutumpangi ikut tertarik keluar dari rel. Percikan api muncul akibat besi yang bergesekan, lalu semua orang berteriak panik, kami semua terguling dan terlempar kemudian semuanya gelap.

Bau anyir dan bau obat membangunkanku, dompet di sakuku terasa mengganjal aneh. Terima kasih Tuhan, aku masih hidup, tepatnya terkapar di ICU. Beberapa bagian tubuhku terasa ngilu, tetapi masih bisa digerakkan. Perawat menghampiriku,”Ah, istirahatlah dulu Mbak, anda beruntung bisa selamat. Luka anda tidak ada yang serius, sementara yang lain ada yang meninggal dengan luka bakar parah”

Aku bergidik. Rasanya aku ingin mati juga. Ah, astaga, aku tidak boleh berpikiran seperti itu.”Suster, ini hari apa?”

“Oh, hari Sabtu. Anda masuk ke sini tadi malam”

Berarti pernikahan berlangsung besok. Apakah orang-orang menyadari bahwa aku tidak sampai tepat waktu? Mungkinkah beritanya belum dimuat di televisi atau surat kabar? Pertanyaanku segera terjawab, televisi menyiarkan berita kecelakaan kereta api semalam, korban tewas puluhan orang dan belum diidentifikasi. Pikiran gila menghampiriku. Inilah satu-satunya kesempatanku, aku tidak akan tanggung-tanggung. Sekuat tenaga, aku berdiri, mengeluarkan dompet, mengambil beberapa lembar uang dan kartu-kartu penting kecuali tanda pengenal. Aku berjalan menghampiri tempat tidur di depanku. Orang di atasnya sudah ditutupi kain putih, di bagian bawahnya terdapat tulisan “Perempuan-belum diidentifikasi-luka bakar 70%”. Aku hanya menyibakkan sedikit kain penutup dan menjejalkan dompetku dengan rasa gugup.

Tanpa diketahui siapapun, aku berjalan keluar dari rumah sakit. Aku menyetop taksi dan menuju bandara, menguat-nguatkan hati, tetapi tetap saja aku menangis tergugu. Aku tidak ingin melakukan ini, tapi di sisi lain aku tidak ingin melihat pernikahan mereka. Tidak ingin lukaku yang indah bertambah parah. Sudah cukup. Aku tidak tahan lagi menghadapi ibu. Toh Vania sudah melengkapi semuanya. Dia sudah sembuh dan sebentar lagi akan menikah. Dan Rehan? Dia hanya butuh waktu. Lambat laun semua akan melupakanku. Aku berjanji tidak akan melupakan mereka. Betapapun ini melukaiku, mereka selalu kucintai.

Di bandara aku segera memesan tiket, kali ini aku akan pergi keluar pulau untuk memulai hidupku yang baru. Setelah ini tidak akan ada lagi kesedihan dan luka.

Hari ini seharusnya pernikahan dilangsungkan dengan atau tanpa aku. Aku menelepon ke rumah dengan perasaan cemas dan merasa bersalah. Satu deringan, dua deringan dan diangkat,”Halo”

“I..iiya, halo..Eh, saya hanya memastikan, benarkan pernikahan Mbak Vania dan Mas Rehan berlangsung hari ini?” dengan suara dibuat-buat aku menjawab terbata-bata.

“Oh, iya betul. Akad nikah baru saja berlangsung. Tetapi pestanya dibatalkan karena kami sedang dalam suasana berduka”

Jantungku berdegup lebih keras,”Ke..kenapa?”

“Saudara Mbak Vania baru saja meninggal dalam kecelakaan, sekara..”. Klik, aku memutus telepon. Hatiku hancur tetapi diam-diam aku juga merasa lega. Aku bergegas mencari koran dan menemukan namaku sebagai korban tewas kecelakaan kereta api. Dengan menarik napas panjang dan tersenyum getir aku bergumam,”Pengorbananku tidak sia-sia. Semoga kalian bahagia tanpaku. Aku akan bahagia dengan kebahagiaan kalian”.

Hikmah : Terkadang dalam cinta, yang terpenting bukanlah kebahagiaan kita semata. Ada kalanya pilihan membawa kita pada pengorbanan satu atau dua hati, untuk melindungi lebih banyak hati.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar