Total Tayangan Laman

Minggu, 01 Mei 2011

SELALU BERSAMA

“Rendra!” suara yang sudah sangat familiar itu memanggilku. Dalam hati diam-diam aku mengeluh, ah gadis itu lagi. Bisakah sehari saja aku lepas darinya.

“Hai, jalanmu terlalu cepat” suaranya riang di sampingku. Aku menoleh dengan muka malas, memasang senyum palsu.

“Tugas dari Bu Rini sudah kau kerjakan?” tanyanya lagi. Deg. Aku terpana, ingatanku payah masalah deadline tugas.

“Belum An, aku..aku lupa kalau dikumpul hari ini”

Anna mengeluarkan segepok kertas dari tasnya dan menyodorkan padaku.”Sudah kuduga, ini sudah kubuatkan”

Aku bernapas lega sambil menatap matanya yang dibingkai kacamata minus,”Ah, itulah sebabnya aku selalu mencintaimu sayang” dalam hati aku jijik sendiri mengucapkan bualan itu.

“Berarti kita baikan lagi sekarang?” Anna menatapku penuh harap. Sejenak aku salah tingkah. Astaga, bukankah kemarin aku baru saja memutuskan hubungan kami untuk kesekian kalinya dan untuk kesekian kali pula Anna menolak putus.

“Oh..ah..iya..kita baikan lagi. Maaf ya sayang”. Anna mengangguk sumringah dan menggamit lenganku erat.

Anna, gadis pintar di kampusku. Sebenarnya dia cukup manis, hanya penampilannya yang rata-rata seperti anak pintar lainnya, culun dan polos. Jelas bukan standar gadis yang akan membuatku tergila-gila. Kalaupun dia sekarang adalah pacarku, itu semua hanyalah sandiwara. Anna terlalu naif untuk menyadari bahwa aku hanya memanfaatkannya. Seberapa seringpun aku menyakiti hatinya, dia tidak pernah marah. Aku tidak pernah berhasil membuatnya membenciku. Memutuskan hubungan kami pun tak ada gunanya, dia selalu menggeleng. Seperti pagi ini, aku bahkan sudah lupa bahwa kemarin kami baru saja putus dan tiba-tiba sudah berbaikan lagi. Mengerjakan tugasku, mengajari hal yang tidak kupahami sampai memberiku contekan ujian dan hal lainnya yang membuatku terpaksa terus bersamanya.

Sore yang cerah, latihan basketku berjalan seperti biasanya. Anna dengan setia menungguku. Dan di bagian pinggir lain lapanagn, seseorang di sana juga menyaksikan kami latihan. Bianca, gadis yang diam-diam belakangan ini kuajak kencan. Baru kali ini aku mengutuk kehadiran Anna di sini. Bisa ketahuan Bianca dan habislah aku. Selesai latihan, Bianca melambaikan tangan padaku. Aku hanya mengangguk sekilas dan melirik Anna dengan cepat. Ah, Anna sedang memperhatikanku. Aku memutar otak agar kali ini bisa lolos darinya.

“Bayu, boleh minta tolong?” aku mendekati kapten tim kami.

“Tentu” jawabnya.

“Aaahh, untunglah. Tolong kau handle Anna, aku ada urusan”, aku memasang muka memohon. Bayu hanya menarik napas panjang, “Bianca ?” tebaknya. Aku hanya mengedikkan bahu. Bayu menepuk bahuku sambil berjalan ke arah Anna. Setelah kulihat mereka mengobrol dan kuyakin aman dari mata minus Anna, aku menggamit Bianca keluar.

“Kenapa harus lari-lari Rendra ?” protes Bianca begitu sampai di lapangan parkir.

“Biar kita cepat pulang dan siap-siap untuk nanti malam Bi”

“Memangnya ada apa?”

Aku menghentikan langkahku dan memutar mataku ke arahnya. “Jangan bilang kau lupa, besok ulang tahunku. Aku ingin merayakannya tengah malam nanti denganmu”

“Ow, iya. Aku hampir lupa. Maaf ya Ren”

Aku tersenyum dan melepaskan tangannya. “Sekarang kita pulang dan pakai helm ini” kusodorkan helm padanya sebelum menaiki motorku.

Malam harinya, seperti yang sudah kami rencanakan aku mengajak Bianca makan malam. Tepat tengah malam, aku menyalakan ponsel dan tidak kurang dari 10 sms masuk. Sudah kuduga, Anna pasti menelepon dan mengirim sms. Menganggu saja, batinku. Tak lama kemudian, sebuah panggilan masuk.

“Ponselmu berdering Ren” tegur Bianca.

“Oh, iya. Aku angkat dulu ya” kemudian aku beranjak agar aman dari pendengarannya.

“Halo”

“Rendra di mana ?” suara Ibuku, untunglah bukan Anna.

“Di luar Ma, bareng teman”

“Anna mencarimu. Dia sudah menunggu dari tadi sampai ketiduran”

Apa ? Anna di rumahku ? Nekat sekali anak itu. Aku menggerutu. Ya Tuhan, apalagi yang harus kulakukan untuk menghindar darinya.

“Sebentar lagi Rendra pulang Mam”

Bergegas kuhampiri Bianca. “Hmm, terima kasih malam ini sudah bersamaku”

Dia tersenyum. Bagiku, senyuman itu sangat menawan. Senyuman yang membuatku melupakan Anna. “Seharusnya aku yang berterima kasih atas makan malamnya. Dan maaf, aku belum memberimu kado”

“Tidak usah sungkan. Bersamamu saja sudah merupakan kado bagiku. Tapi rasanya masih kurang lengkap”

“Kenapa kurang lengkap Ren ?”

“Kau benar-benar mau tau”

Bianca berpikir sebentar dan mengangguk. Segera aku berlutut di hadapannya “Lengkapilah dengan menjadi kekasihku”. Aku was-was menunggu reaksinya. Bianca tertawa ringan membuat pikiranku semakin tidak karuan.

“Jangan bercanda Ren, kau masih punya Anna”

“Tidak. Aku sudah putus dengannya. Dia yang masih mengejarku” cepat kutepis kata-kata Bianca.

“Benarkah ?”

“Iya, Anna tidak ada apa-apanya dibandingkan kau”

“Tapi dia pintar”

“Dan kau cantik”. Ayolah Bianca, bisikku dalam hati.

“Baiklah”. Akhirnya, gadis cantik inipun jadi kekasihku. Rasanya ingin kudendangkan nyanyian cinta. Besok, aku sudah bertekad memutuskan Anna, apapun yang terjadi.

Tak berapa lama kemudian, kami sudah meluncur di jalanan. Aku memberikan jaketku pada Bianca yang mengeluh kedinginan. Aku juga kedinginan, tapi hangat dan dipenuhi cinta. Bagaimana tidak, salah satu primadona kampus sedang duduk manis di jok motorku. Aku tersenyum sepanjang jalan. Aku tidak pernah sebahagia ini. Semuanya terasa begitu indah, tidak ada lagi yang kupedulikan termasuk lampu merah yang sudah menyala. Tetapi aku masih melaju kencang, toh sudah tengah malam begini pikirku. Sungguh tidak kuduga, dari arah kanan sebuah mobil juga melacu dengan kecepatn tinggi. Aku hanya ingat lampu yang begitu menyilaukan dan aku terhempas sambil berusaha melindungi Bianca yang berpegangan padaku, lalu suara tubrukan dan suara jeritan. Kami melayang dan terhempas berguling di aspal. Sebelum semuanya hilang, cairan dingin terasa merembes dari pelipisku dan akupun tidak sadarkan diri.

Genggaman hangat di tangan membangunkanku. Belum sempat aku bergerak dan menyadari lebih jauh, seseorang sudah lebih dulu memanggil namaku.

“Rendra. Kau sudah sadar ?”

“A...ah, ya” bibirku sulit digerakkan. Aku meraba kepala dan wajahku, penuh perban dan di beberapa bagian terasa kaku. Aku menoleh ke arah suara tadi. Anna !

“Istirahatlah dulu. Jangan banyak gerak”

Aku ingin memejamkan mata lagi, tapi pikiranku tidak bisa diam. Bianca bagaimana ? Tidak mungkin aku menanyakannya pada Anna. Mengapa di saat seperti ini, kehadiran Anna masih saja mempersulitku. Syukurlah, ibuku masuk beberapa saat berikutnya. Beliau kuminta mendekat dan aku berbisik.

“Ma, Bianca..”

Ibuku menoleh pada Anna dan menjawab ragu-ragu. “Di..dia tidak apa-apa. Hanya luka lecet. Dia minta maaf tak bisa menemanimu, tunangannya tadi datang menjemput”

Apa? Kesadaranku menyeruak. Tunangan? Gadis yang baru saja jadi milikku. Gadis yang kuajak merayakan ulang tahunku. Gadis yang tadi malam kulindungi saat kecelakaan, sampai aku terkapar seperti ini. Gadis itu mempermainkanku seperti aku memperlakukan Anna tetapi harga yang harus kubayar mahal sekali. Sakit di hatiku mengalahkan semua rasa sakit di wajah dan tubuhku. Dan Anna. Sudah taukah dia? Rona mukanya segera menjawab pertanyaanku.

“Anna pamit tante. Rendra cepat sembuh” Anna langsung pergi tanpa menoleh lagi. Mataku mengiringi langkahnya. Saat punggungnya menghilang di balik pintu, hatiku bertambah sakit. Bukankah seharusnya aku senang. Bukankah memang ini yang kuharapkan. Melepaskan diri dari Anna. Tapi melihatnya pergi seperti itu, aku tidak senang sedikitpun.

Beberapa hari berikutnya, Anna tidak datang ke rumah sakit. Bianca juga tidak. Sudahlah, Bianca sudah jelas-jelas mencampakkanku. Mungkin Anna juga begitu. Aku tidak tau, hanya saja terasa agak aneh. Anna yang biasanya selalu ada, Anna yang selalu siap membantu, Anna yang setia menunggui latihan basketku, Anna yang tulus, Anna yang.. Sekarang rasanya aku kehilangan. Mungkin kecelakaan kemarin membuatku gila. Aku benar-benar ingin melihat Anna, bukan Bianca.

Akhirnya aku diijinkan pulang dari rumah sakit dengan bekas luka jahitan di pelipis dan dagu serta gips di kaki kiri. Tubuhku cacat sementara waktu, harus memakai kruk dan bentuk wajahku berubah karena dijahit. Saat di depan cermin, aku merasa wajahku seperti habis dicoret-coret. Aku sempat bercanda pada ibu bahwa ketampananku hilang. Ibuku hanya tertawa dan mengatakan aku masih segagah dulu. Tapi mengingat bahwa Anna meninggalkanku, aku sangsi atas jawaban itu.

Belum sampai di rumah, ponselku dihubungi Bayu. Di seberang sana, terdengar suara panik temanku itu.

“Rendra, kau harus tau ini ! Jangan pulang dulu ! Kau harus secepatnya ke sini !”

“Hei, ada apa ini. Aku harus ke mana ? Kenapa aku tidak boleh pulang ?”

“Bandara. Cepatlah ! Anna berangkat ke Australia hari ini ! Dia lolos pertukaran mahasiswa !”. Deg. Aku bahkan tidak tau kenapa aku terkejut. Dengan panik aku meminta ibu membawaku ke bandara, cepat-cepat kujelaskan semuanya.

“Tenang saja Ren, Anna masih mencintaimu. Dia tidak akan pergi sebelum melihatmu”

“Ma, bahkan dia tidak bilang akan ke Australia hari ini. Dan Mama juga tau, di rumah sakit dia pergi begitu saja saat Rendra menanyakan Bianca”

“Mungkin dia terluka. Tapi asal kau tau, sebelumnya dia sudah tau kau pergi bersama Bianca dan dia tetap menungguimu hingga kau sadar. Bahkan dia menitipkan kado untukmu ke rumah waktu itu”

Kata-kata ibuku tidak menghibur sedikit pun. Bagaimana ini, Anna pergi. Dia memang dari dulu ingin melanjutkan kuliah di negeri kangguru itu. Tapi aku tidak tau akan secepat ini. Aku tidak peduli apa tanggapannya, aku harus menemuinya sebelum dia pergi.

Begitu tiba di bandara, Bayu langsung menyambut dan memapahku. “Anna sudah berangkat Bay ?”

“Belum. Tapi dia sudah masuk ruang tunggu. Kita bisa meminta petugas memanggilnya keluar”

Dan Anna pun keluar menemuiku. Sempat aku tidak mengenalinya. Kacamatanya dilepas berganti lensa kontak cokelat tua. Rambutnya digerai dan dipotong sebahu, anak rambutnya dibiarkan lepas menari-nari di dahinya. Pakaian yang ia kenakan pun agak berbeda dengan biasa. Dia terlihat lebih tenang dan dewasa. Aku meminta Bayu dan ibuku meninggalkan kami berdua.

“Kau marah padaku. Lalu pergi dengan cara seperti ini. Padahal selama ini kau yang bilang bahwa kita akan selalu bersama. Kau melanggar janjimu”

“Aku menepati janji itu. Tapi kau tidak”

“Aku minta maaf An” aku benar-benar memohon

“Aku sudah memaafkanmu. Aku memaafkan kata-kata putus yang sering kau ucapkan. Aku memaafkan semua sikapmu untuk menghindariku. Hanya saja aku tidak bisa menerima kalau kau sudah main perempuan”

“Tidak akan lagi. Aku mohon jangan pergi” aku jatuh berlutut di depan Anna, menjatuhkan krukku. Ibu dan Bayu bergegas menghampiri, tapi aku memberi isyarat aku tidak apa-apa. Anna ikut menjatuhkan diri, berlutut persis di depanku.

“Aku harus pergi. Aku sudah lama menanti kesempatan ini”. Aku meraih tangannya tetapi tidak berani menatap matanya,”Aku mencintaimu. Sungguh. Aku ingin kau tetap di sini”. Anna tetap menggeleng.

“Apakah karena sekarang aku jelek dan kau berubah menjadi cantik ?”. Sekarang matanya berkaca-kaca. “Mungkin memang jalan kita harus seperti ini Ren. Sekarang kesempatan belum berpihak pada kita di sini”

“Selama kau di sana, aku akan menunggumu”

“Dua tahun itu bukan waktu yang sebentar” katanya, Anna bangkit dan berlari ke dalam. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Entah berapa lama aku terpaku di sana, sampai Bayu memapah dan membawaku pulang.

Anna tidak peduli lagi padaku justru di saat aku membutuhkannya. Memang aku yang salah, tapi aku ingin diberi kesempatan untuk membuktikan cintaku padanya. Sungguh, aku ingin. Aku sadar, tidak ada lagi gadis yang begitu tulus padaku seperti Anna. Dugaan ibuku salah, Anna lebih memilih cita-citanya dan aku tidak digubris.

Dengan setengah hati, aku membuka kado yang dia titipkan waktu itu. Isinya cuma kartu ucapan selamat dan sebuah amplop. Bergegas kubuka isinya, ternyata sebuah surat konfirmasi dari sebuah universitas di Australia. Bahwa aku juga lolos untuk pertukaran mahasiswa. Aku tidak percaya isinya, kubaca berulang kali dan kuminta juga ibu membacakannya. Benar, aku juga diterima di universitas yang sama dengan Anna. Pasti Anna yang diam-diam mengurus semua ini untukku. Aku salah menilai dugaan ibuku, ternyata dia benar, Anna masih mencintaiku. Astaga, inilah arti kata-katanya di bandara, bahwa dia tidak melanggar janji kami untuk terus bersama, bahwa kesempatan belum berpihak pada kami di sini, tapi di sana. Ah, Anna. Segera kususul kau ke sana. Bagiku saat ini, Anna begitu manis, seperti kejutan yang dia berikan padaku. Dia pasti sudah menduga aku belum membuka kado ini. Kita akan selalu bersama Anna, sebentar lagi setelah aku pulih.

Sesuatu memang baru terasa berharga setelah kita kehilangan. Alangkah baiknya mensyukuri setiap nikmat yang diberikan pada kita karena kita tidak tau apakah akan ada kesempatan lainnya atau tidak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar