Total Tayangan Laman

Selasa, 02 Juli 2013

Untukmu yang Menautkan Kelingking Padaku

            Bersamamu, tak pernah terpikirkan, tak pernah terlintas. Apapun yang terjadi hingga hari ini adalah sesuatu yang jauh di luar rencanaku, jauh di luar dugaku dan jauh dari yang bisa aku bayangkan. Jika pun semuanya usai, karena tidak ada lagi yang bisa membuat kita bertahan, aku tidak akan menahan apapun. Tidak akan.
Kita hanya perlu menyesuaikan diri untuk kembali seperti semula. Seperti dua orang asing yang tak sengaja terpaut benang yang tiba-tiba mengait ujung kelingking kita. Bukankah akan lebih mudah melepaskannya karena yang terikat hanya ujung jari saja. Kita hanya perlu berhenti saling peduli, ah tidak, kita sudah melakukannya. Tidak seperti yang kita bayangkan, kita cukup berhenti saling melihat I dan tak lagi saling menyebut nama. Seperti kabut-kabut asap ini yang dilenyapkan air hujan yang sengaja diturunkan. Hilang tanpa jejak lagi, tak ada lagi yang tersisa.
Mungkin awalnya akan terasa sesak. Aku beri tahu padamu, it’s okay not to be okay. Kadang-kadang memang pahit mengikuti kata hati. Hanya perlu sedikit waktu sampai kita terbiasa bernafas lancar lagi seperti biasa.
Aku tanya padamu, apa gunanya kebersamaan saat dalam kesendirian ternyata lebih melegakan? Apa lagi yang harus kita paksakan, tidak ada. Daripada kita mati kehabisan oksigen hanya karena ujung jari yang terikat, bukankan lebih baik membebaskan diri? Jari ini sudah mati rasa terpaut sekian lama, membebat sejumlah arteri kapiler yang lama-lama akan membuatnya mati.Melepaskan semuanya, bahkan cerita-cerita yang kita karang saat mengaitkan jemari di bawah temaram bulan, harus kita buang.
            Kau tau, api sudah mengabukan semuanya, termasuk kita. Hanya akan ada, kau dan aku. Tentu saja akan kita relakan melodi-melodi yang sempat terlantun di malam-malam sebelum kantuk menggelayut mata. Saatnya membiarkan hujan untuk menghanyutkan.


-sejenak setelah kabut sirna dari Pekanbaru-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar