Total Tayangan Halaman

Senin, 24 September 2012

TANPA KATA TANPA RASA


                Apakah menurutmu orang yang tanpa kata tidak punya perasaan apa-apa ? Maaf, kau salah. Selama ini kau hanya tak sadar saja. Kaulah bagian dari mimpi-mimpiku, tinta dari pena-penaku. Apakah aku berlebihan ? Tidak sama sekali. Kau membuatku menggunakan cinta dengan cara yang baik. Cinta yang mendewasakan, meluaskan, membebaskan dan melegakan. Aku belajar dewasa karena rasaku tak padam padamu. Tak butuh pandangan siapapun, rasaku nyata dan aku menghormati itu. Aku bisa melihat ke segala arah karena kau pernah mengajarkanku. Kita membebaskan hati untuk memilih apa saja. Dan aku lega karena aku tau benar isi hatiku. Aku lega karena aku sudah mengakuinya sendiri. Kau tidak terganti. Karena bersamamu hanya bisa kuuraikan lewat satu kata. Terlalu. Semuanya terlalu. Terlalu indah, terlalu pilu. Terlalu cinta, terlalu pilu. Terlalu kau, terlalu aku. Setelahnya tak pernah lagi sama. Takkan lagi ada. Jadi aku ini tanpa kata, bukan tanpa rasa. Kau tak perlu memaksakan diri untuk percaya. Mungkin kau tak bisa dan nantinya hanya menyakitkan bagi kita berdua.
                Aku tak ingin kembali ke masa lalu. Tapi setiap jengkal tanah di sini selalu berbicara tentangmu. Entah tanah yang kupijak, entah tanah di sudut hatiku. Semuanya bicara dalam satu bahasa utuh, KAU.
Menemukan dan kehilangan. Menemukan diriku kehilanganmu. Mencintaimu, lalu melupakan. Dear you, is anything alright ? I ask you once, because there’s a heartquake here. Bisakah kita, ah bukan kita, bisakah kau dan bisakah aku menanggalkan mahkota gengsi yang melekat ini secara bersamaan ? Ada hati yang tak bisa dibohongi di sini, sementara di sampingnya ada harga mati untuk diri..Ini terlalu menyedihkan, tak berujung pangkal tapi menusuk terlampau dalam. Mampu menenggelamkan segenap sadar dan kuatku. Kecuali sadarku untuk terus mengingatmu. Semuanya padu, satu.
               Beberapa tahun belakangan ini, ah rasanya baru kemarin bukan, beberapa waktu terakhir, aku mencoba lari darimu, selari-larinya aku. Tapi jalan ini dengan manis memutarku kembali padamu. Tidak tau apakah memihakku atau justru menghantamku di lain waktu. Dan rasanya beranjak pun aku tak mampu. Hanya menikmatinya, tak peduli akan memanjakan atau membunuhku pelan-pelan.
Dan kata-katamu waktu itu, bahwa tak mudah menghapus namaku dari kepalamu. Aku membeku bukan karena aku tak tau. Aku diam karena sama sulitnya bagiku. Karena sama hancurnya untukku, sama-sama pilu.


Aug 18th-21th 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar