Total Tayangan Laman

Jumat, 23 Desember 2011

Perempuan di Seberang Jalan

Perempuan itu, sekitar 1 atau 2 tahun lebih muda dariku. Entahlah, aku tak tahu pasti. Perempuan di seberang jalan itu, rambutnya digulung rapi ke atas, terusan krem yang dikenakannya membuatnya terlihat anggun. Dari kejauhan sini, satu-satunya hal yang dapat kutangkap dengan jelas adalah bahasa tubuhnya yang mengisyaratkan keramahan. Setiap kali ada orang yang mampir ke stand yang dijaganya, dapat kulihat kepalanya sedikit menunduk memberi hormat dan tangannya bergera-gerak untuk memperagakan apa yang ia jelaskan. Hampir tak pernah perempuan tersebut duduk atau bermenung. Ketika pengunjung sepi, ia berdiri agak ke depan dan berusaha menarik perhatian orang untuk mampir.

“Mau kuperkenalkan padanya?” tegur seseorang dari balik bahuku. Indra, dia penyelenggara acara bazaar yang diadakan yayasan sosial tempatku berkecimpung belakangan ini.

“Erm..aku..aku tau siapa dia” aku berbalik dengan jengah.

“Maya, dari tadi kau tidak melakukan pekerjaanmu. Kau hanya sibuk memandang ke seberang jalan. Kau terganggu dengan kehadiran Raisa?” tanya Indra tepat di sasaran.

Aku membuka mulut tanpa dapat berkata-kata untuk beberapa saat. “Ti..tidak. Aku tidak terganggu sama sekali. A..aku..aku hanya berpikir, dari sekian banyak hal, apa yang membuat Aldo memilih perempuan itu..”

“Dan mengabaikan perempuan sehebat Maya?” potong Indra cepat.

“Ndra..”

“Maya, tolong hidup di dunia nyata!!” sergah Indra sambil memegang bahuku erat.

“Dan kembalilah pada pekerjaanmu. Stand-stand di sini butuh pengawasanmu!” sambungnya kembali sebelum beranjak meninggalkanku.

Aku berkeliling mengawasi jalannya acara, tentu saja tidak berani ke seberang jalan. Perempuan itu, ada perasaan ganjil ketika aku melihatnya. Mungkin ada sedikit marah, cemburu dan entah apa lagi. Lelaki yang pernah singgah di hidupku, Aldo, dia memilih mempertahankan hubungannya dengan perempuan itu. Walaupun dia hanya menjadikanku pelarian, tapi dalam waktu yang sesingkat itu, dia memberiku luka yang membekas dalam.

Apakah karena Raisa lebih cantik? Tapi Indra bilang tidak juga. Atau Indra bilang begitu karena dia adalah temanku. Apakah karena dia lebih baik? Tapi aku juga bukan orang jahat. Apa yang sebenarnya dilihat laki-laki dari seorang perempuan? Apakah dia lebih bisa mengerti Aldo? Ciih, aku tidak sanggup mengerti sikap laki-laki yang menjadikanku selingkuhan. Apakah Raisa sanggup memaafkan Aldo yang mengkhianatinya? Apakah Raisa pernah tau bahwa perempuan itu adalah aku? Ribuan pertanyaan berdengung di kepalaku. Aku menggeleng mencoba mengusir pikiran-pikiran yang lebih buruk lagi.

“Maya!!” Indra berkacak pinggang di depanku.

“Jangan kejam begitu padaku Ndra, aku ini tetap temanmu!” aku balas memandang garang.

Indra tergelak sebentar. “Hah, baiklah. Sekarang kau bisa istirahat, sejauh yang kulihat semuanya berjalan dengan baik”

Aku menarik kursi dan mengarahkannya tepat ke seberang jalan.

“Hei, kau masih penasaran padanya?” Indra akhirnya ikut menarik kursi dan duduk di sampingku.

“Dia bahkan tidak mengenalku” aku menghela napas.

“Dan kau kenal dia dari?”

“Dari foto di dompet Aldo, yang bahkan tidak pernah diakuinya, perempuan yang dia rahasiakan” jawabku.

“Aku tidak tahu harus kasihan atau tidak padanya” ujar Indra.

“Kasihan karena dia bahkan tidak tau kalau telah dipermainkan kekasihnya, tapi di sisi lain lebih baik dia tidak tau apa-apa” tebakku atas ucapan Indra.

Indra tersenyum hambar. “Bukan, karena kau sekarang jauh lebih menyedihkan”.

“Haissh, aku akan kembali bekerja. Tolong berikan salinan daftar peserta di sini” aku mengalihkan pembicaraan karena tidak nyaman dikasihani orang.

Indra memberiku setumpuk map, aku membawanya menjauh. Aku membolak-balik beberapa lembar kertas sampai akhirnya aku menemukan file stand yang dijaga Raisa, lengkap dengan nomor yang bisa dihubungi. Tidak Raisa, kau harus tahu kebenarannya, entah kau kenal aku atau tidak. Aku akan mengatakannnya dengan baik-baik. Aku melangkah mantap ke depan dengan niat yang sama mantapnya, sebelum aku melihat laki-laki yang sekarang berbincang dengan Raisa. Aldo, taukah dia aku di sini? Inikah kisah yang dulu selalu diingkarinya? Akhirnya aku menyaksikannya di depan mataku sendiri. Perasaan ganjil kembali bersarang di hatiku, lebih nyata dan lebih menyayat. Aku mundur kembali, bukan karena gentar tapi lebih karena aku tidak atau harus bereaksi bagaimana. Sakit saja tidak cukup untuk mendeskripsikan apa yang kurasakan. Aku begitu membenci kenyataan, membenci mereka, kebahagiaan mereka dan kisah yang mereka yang punya.

Aku hanya ingin perempuan di seberang jalan itu tau kenyataan ini. Entahlah akan mengoyak kebahagiannya atau tidak. Dia hanya perlu tau apa yang telah menimpanya, entah dia sadar atau tidak. Aku ingin dia tau lelaki macam apa yang kini bersamanya. Di satu sisi aku ingin menyelamatkan perempuan di seberang jalan itu, tapi di sisi lain aku ingin melihat mereka merasakan apa yang kurasakan.

Dengan nanar, aku mencari-cari fotoku dan Aldo yang masih tersimpan rapi di ponselku. Hanya dalam hitungan detik, aku sudah bersiap mengirimkannya pada Raisa. Tepat di saat gerimis tiba-tiba turun dan dengan cepat berubah menjadi hujan angin. Kontan semua stand yang berada di seberang jalan mejadi riuh menyelamatkan barang mereka. Sementara itu, satu-satunya gedung yang aman untuk berteduh adalah tempatku berdiri sekarang. Sebagian dari mereka sudah mulai berlarian ke arahku. Raisa dan Aldo masih sibuk berkemas. Hatiku semakin nyeri melihat pemandangan itu.

“Ayo bantu mereka!!” seru Indra tiba-tiba yang membuatku kaget dan memencet tombol “send” di ponsel.

Dan berikutnya semuanya terjadi dengan cepat tanpa bisa kuprediksi. Raisa yang tengah kerepotan membawa kardus menyebrang jalan, merogoh saku dan mengeluarkan ponselnya. Aku yang hendak menyeberang untuk menolong segala kerepotan dari sana, mendadak tertegun saat Raisa beralih-alih menatapku dan layar ponselnya sambil berjalan pelan. Beberapa barang terjatuh dari kardusnya, tapi Raisa acuh dan berjalan mendekat ke arahku. Aku menelan ludah. Sebelum aku sempat mengedipkan mata, sebuah truk dengan kecepatan tinggi melintas dan tanpa ampun menabrak tubuh Raisa. Aku memekik tertahan dengan tangan terulur ke depan, mukaku pias. Aku yakin aku mendengar suara benturan keras, suara tulang remuk, suara tubuh Raisa yang menghantam keras aspal, suara ponsel terlempar dan pekikan Aldo. Aku bergetar di bawah hujan, entah hujan yang membasahi tubuhku entah peluh dingin. Hatiku bergetar. Hujan membawa genangan darah mengalir ke arahku, bau amis seketika menyergap penciumanku. Orang-orang berlarian panik, entah menuju Raisa, entah menuju tempatku. Orang-orang dari seberang jalan itu..

Pekanbaru, Dec 16th 2011

It was the same day as today, friday, six years ago

published also in : http://facebook.com/yunriska.rona

Tidak ada komentar:

Posting Komentar