Total Tayangan Laman

Sabtu, 24 Desember 2011

Jogja Sweet Jogja

Selalu, bagian tersulit itu adalah meyakinkan ayahku. Aku hanya minta waktu “sedikit” lagi sebelum aku punya pilihan lain. Tanggapan beliau tidak berbeda dari dua tahun yang lalu dan tahun-tahun sebelumnya. Selalu, “Beratkah meninggalkan Jogja?”. Dan selalu pula dengan halus aku menampiknya. Tetapi setiap alasanku seolah menambah pertanyaan baru, seperti. “Ada apa di Jogja?”, “Pacarmu di Jogja?” dan sebagainya.

Aku hanya bisa tertawa. Aku tidak seperti seorang lelaki yang rela tinggal di Jogja atau dimanapun itu hanya demi pujaan hati. Aku lebih kuat daripada itu. Ayah, jangan lupa, saat aku memutuskan ke Jogja, aku meninggalkan dan mengorbankan banyak hal dan banyak orang. Rasanya menyakitkan, berat tapi menyenangkan. Sampai sekarang pun, aku masih seperti itu. Kalau memang harus pergi, aku pasti pergi, tidak peduli siapa dan apa yang tertinggal. Sedih memang, tapi demi harapan dan mimpi yang lebih baik, bukankah jalannya memang sulit?

Selama 5 tahun, resmi terdaftar sebagai mahasiswa UGM. Bertemu dengan orang-orang hebat, mendapat transfer ilmu dan banyak pengalaman. Di sini, aku merasa kaya, bukan kaya harta, tapi jauh lebih berharga daripada itu karena semua hal yang kualami tidak bisa ditukar dengan uang, sekalipun bisam aku tidak ingin menukarnya..

Semua kenangan di sini, bukan itu yang menahanku. Juga bukan semua hal yang ada di sini, apalagi hanya karena satu orang. Aku sudah mempersiapkan diri meninggalkan Jogja, tapi sengaja kutinggalkan juga sebagian hatiku, agar lain kali bisa kujenguk lagi. Aku mengucapkan selamat tinggal, tapi belum sekarang. Nanti, sedikit lagi. Ahh..sebenarnya juga aku tidak tau. Dad, please don’t ask me that similar question again. I don’t have the answer.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar